Skip to main content

Bust Myths: Upaya Mematahkan Stigma Masyarakat terhadap Orang dengan Kusta


Menurut World Health Organization (2022), kusta atau yang dikenal lepra adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Berdasarkan Data Kementerian Kesehatan, jumlah penyakit kusta per 24 Januari 2022 terdapat sebanyak 13.487 kasus dengan penemuan kasus baru sebanyak 7.146 kasus (P2P Kemenkes RI, 2022). Ironisnya dengan banyaknya jumlah penyakit ini tidak diikuti dengan kesadaran masyarakat sendiri mengenai penyakit kusta. Hal ini dibuktikan dengan maraknya stigma yang beredar di masyarakat seperti adanya anggapan bahwa kusta adalah penyakit kutukan, menyedihkan, tidak memiliki harapan untuk hidup, dan sebagainya. Salah satunya, stigma penyakit kusta pernah dialami oleh R (Bona, 2021). Saat masih bersekolah, R pernah dikucilkan dan mendapatkan cibiran dari tetangga. Bahkan, dirinya pernah mendapatkan penolakan dari orang tua siswa yang mendesak sekolah untuk mengeluarkannya. Selain itu setelah R lulus SMK, dirinya juga menuturkan jika mengalami masa yang sulit hingga menjadi depresi dan mencoba bunuh diri sebanyak tiga kali. Hal itu dilatarbelakangi oleh perlakuan orang sekitar termasuk keluarga sendiri yang mengkhawatirkan akan stigma penyakit kusta yang bisa menular dan sulit disembuhkan. 

Adanya berbagai stigma terhadap orang dengan kusta tentu sadar atau tidak sadar berpotensi menimbulkan dampak terhadap kehidupannya. Di mana orang dengan kusta rentan mengalami diskriminasi. Bahkan, yang lebih memprihatinkannya lagi adalah menurunnya mental well-being mereka yang bisa berdampak pada munculnya berbagai gangguan psikologis.

Agar stigma masyarakat tidak berdampak negatif bagi orang dengan kusta maka kita harus mematahkan stigma tersebut. Salah satunya adalah dengan menerapkan bust myths. Lalu, apakah bust myths itu? Secara sederhana, bust myths adalah upaya yang dilakukan untuk memberitahu realita mengenai penyakit kusta. Upaya ini perlu dilakukan karena banyaknya masyarakat yang belum mengetahui realita yang sebenarnya mengenai penyakit kusta. Akibatnya, tidak mengherankan jika stigma penyakit ini masih beredar secara luas di masyarakat. Dengan demikian, kita perlu melakukan bust myths untuk mematahkan stigma penyakit kusta dengan membuat orang lain tahu realita tentang penyakit kusta. 

Untuk melakukan bust myths pada dasarnya bisa dilakukan oleh semua orang. Cukup dengan bermodalkan pengetahuan mengenai penyakit kusta, setiap orang bisa menyuarakan realita mengenai penyakit ini. Meskipun demikian, pengetahuan tersebut tentunya harus diketahui dari sumber yang kredibel. Di antaranya adalah bersumber dari jurnal, buku, ahli kesehatan, dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar informasi yang didapatkan bersifat akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam melakukan bust myths, kita bisa menyuarakannya dengan menggunakan dua cara. Pertama, membagikan informasi secara langsung. Di mana kita bisa memberitahu realita secara langsung mengenai penyakit kusta di masyarakat seperti melalui sosialisasi, diskusi, dan sebagainya. Kedua, membagikan informasi melalui media. Hal tersebut bisa dilakukan baik melalui media cetak maupun media sosial. Melakukan bust myths tersebut baik secara langsung maupun melalui media kedua-duanya sama-sama efektif. Jika bust myths dilakukan secara langsung maka stigma yang ada di masyarakat bisa langsung terkikis. Meskipun demikian, cara tersebut tetap diperlukan secara bertahap agar stigma yang melekat di masyarakat bisa menghilang. Sedangkan, melakukan bust myths melalui media bisa menjangkau masyarakat secara luas. Namun, diperlukan kreativitas tersendiri dalam melakukan cara ini agar semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk membaca. 

Setelah menentukan cara yang digunakan, langkah terpenting selanjutnya adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa stigma yang melekat pada orang dengan kusta adalah miskonsepsi. Dengan kata lain, stigma yang beredar hanyalah pemahaman yang salah kaprah. Sebagai salah satu contoh, banyak masyarakat yang memberikan stigma bahwa kusta adalah penyakit kutukan yang tidak bisa disembuhkan. Faktanya, penyakit kusta bukanlah disebabkan karena kutukan melainkan karena infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit kusta sebenarnya juga bisa disembuhkan tanpa cacat asalkan mendapatkan pengobatan yang tepat dan tuntas. 

Jumlah orang dengan kusta sangatlah banyak namun hal tersebut tersebut ironisnya tidak diikuti dengan kesadaran masyarakat sendiri mengenai penyakit kusta. Adanya berbagai stigma terhadap orang dengan kusta menjadikan kehidupannya berpotensi terdampak. Dengan demikian agar stigma masyarakat tidak berdampak negatif terhadap orang dengan kusta maka kita harus mematahkan stigma tersebut. Salah satunya adalah dengan menerapkan bust myths. Upaya tersebut pada dasarnya bisa dilakukan oleh semua orang dengan dua cara, yaitu: membagikan informasi secara langsung dan membagikan informasi melalui media. Langkah terpenting selanjutnya adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa stigma yang melekat pada orang dengan kusta adalah miskonsepsi. Diharapkan dengan adanya penerapan bust myths menjadikan stigma terhadap orang dengan kusta bisa terpatahkan sehingga orang dengan kusta bisa menjalani kehidupan sehari-hari sebagaimana orang pada umumnya.


Daftar Pustaka


Bona, M. F. (2021, Desember 29). Digerogoti Kusta, Rusdin Tak Putus Asa Melawan Stigma Masyarakat. BeritaSatu.com. https://www.google.com/amp/s/www.beritasatu.com/amp/news/873055/digerogoti-kusta-rusdin-tak-putus-asa-melawan-stigma-masyarakat


P2P Kemenkes RI. (2022, Januari 31). Mari Bersama Hapuskan Stigma dan Diskriminasi Kusta di Masyarakat. http://p2p.kemkes.go.id/mari-bersama-hapuskan-stigma-dan-diskriminasi-kusta-di-masyarakat/


World Health Organization. (2022, Januari 11). Leprosy. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/leprosy

Comments

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bijak. Dilarang komentar dengan spam atau sejenisnya.

Popular posts from this blog

Pentingnya Penguatan Relevansi Pendidikan Tinggi dengan Industri 4.0 dan Peningkatan Kebekerjaan

Pendidikan tinggi sering mendapatkan stigma positif dari masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa pendidikan tinggi mampu menjamin masa depan. Stigma ini menjadikan masyarakat mendorong anaknya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang tersebut. Stigma positif masyarakat terhadap pendidikan tinggi nyatanya tidak sepenuhnya sesuai dengan realita. Adanya anggapan bahwa pendidikan tinggi mampu menjamin masa depan nyatanya belum sepenuhnya sesuai. Jika kita lihat tingkat pengangguran terbuka berdasarkan tingkat pendidikan, pendidikan tinggi menempati peringkat pertama (11,85%). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan SMA kejuruan (11,13%) dan SMA umum (9,09%) (Badan Pusat Statistik, n.d.) Sumber: bps.go.id Tingginya tingkat pengangguran terdidik menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum sepenuhnya sesuai dengan relevansi industri 4.0. Di mana pendidikan tinggi saat ini belum melakukan banyak transformasi. Salah satunya adalah pendidikan tinggi masih menekankan pada ha...